kediritogel
LIVEKisah Kerajaan Kediri bukan hanya tentang pergantian nama, tetapi juga tentang perubahan pusat dan susunan kekuasaan. Kerajaan yang dikenal pula sebagai Kadiri atau Panjalu itu berada di Jawa Timur, berkuasa pada 1042–1222, dan disebut sebagai kelanjutan Kahuripan sekaligus salah satu kerajaan hasil pembelahan pada masa Airlangga. Pusatnya berada di Dahanapura atau Daha, kota kuno yang kini termasuk wilayah Kota Kediri; sumber juga menyebut Wangsa Isyana sebagai wangsa yang memerintahnya. [1]
Daha menghubungkan kisah Kahuripan dan Kediri
Daha sudah tercatat sebelum peristiwa pembelahan kerajaan. Prasasti Pamwatan yang dikeluarkan Airlangga pada 1042 menyebut Dahanapura. Sementara itu, Serat Calon Arang mengisahkan bahwa menjelang akhir pemerintahan Airlangga, pusat kerajaan berpindah dari Kahuripan ke Daha dan Airlangga disebut sebagai raja Daha. [1]
Dua jejak itu memberi konteks pada perubahan politik: peralihan dari Kahuripan ke Daha tidak semata-mata soal nama tempat, tetapi terkait dengan perubahan pusat pemerintahan dan pembentukan kerajaan-kerajaan baru. Itu adalah cara membaca hubungan antarketerangan tersebut, bukan alasan untuk menganggap prasasti dan kisah sastra menyampaikan jenis informasi yang sama.
Panjalu dan ingatan tentang persaingan politik
Nama Panjalu lebih sering muncul daripada Kadiri dalam prasasti yang diterbitkan oleh raja-rajanya. Nama itu juga tercatat sebagai Pu-chia-lung dalam kitab geografi Tiongkok Lingwai Daida pada 1178. Kehadiran Panjalu dalam kedua jenis catatan tersebut menunjukkan bahwa nama kerajaan dapat ditelusuri melalui sumber lokal maupun catatan dari luar Jawa. [1]
Jejak politik lain berkaitan dengan Sri Jayabhaya dan Janggala. Sebuah sumber menyebut Prasasti Hantang mengisahkan kemenangan Kadiri di bawah Jayabhaya atas Janggala. Keterangan ini menambahkan sisi persaingan pada kisah Kediri: sejarahnya juga dikenang melalui hubungan antarkerajaan dan kemenangan politik. [2]
Apa yang dituturkan sastra tentang Daha
Dalam kutipan Lontar Calon Arang, Mpu Baradah melakukan perjalanan menuju Daha dan bertemu Airlangga yang sedang dihadap di istana. Adegan itu menempatkan Daha sebagai latar pertemuan antara tokoh pendeta dan raja dalam sebuah kisah. [1]
Kisah sastra dan prasasti memberi jenis petunjuk yang berbeda. Prasasti membantu menelusuri nama Panjalu dan Dahanapura, sedangkan kutipan sastra memperlihatkan bagaimana Daha dan sosok penguasa hadir dalam sebuah narasi. Membaca keduanya berdampingan memberi konteks tentang politik sekaligus kehidupan budaya, tanpa menyamakan cerita sastra dengan catatan langsung mengenai keseharian masyarakat.
Membaca Kediri melalui beberapa jejak
Dari Kahuripan ke Daha, dari sebutan Panjalu hingga kisah tentang Jayabhaya, jejak Kediri memperlihatkan sejarah yang terbentuk oleh perubahan pusat kuasa dan ingatan tentang persaingan. Karya sastra menambah lapisan lain: bukan sebagai pengganti prasasti, melainkan sebagai cara memahami bagaimana tokoh, istana, dan tempat seperti Daha diceritakan dalam budaya Jawa pada masanya. [1][2]
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Kerajaan Kadiri. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29731813&title=Kerajaan_Kadiri (diakses 2026-10-04).
- [2] Wikipedia bahasa Indonesia — Persik Kediri. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29957404&title=Persik_Kediri (diakses 2026-10-04).